Home » Berita » Workshop Kepala SMA Model Ditutup Kasubdit Pembelajaran

Workshop Kepala SMA Model Ditutup Kasubdit Pembelajaran

Published on October 30, 2010 — Ditulis oleh Drs. Bandono, MM | Kategori: Berita

Sabtu legi tanggal 30 Oktober 2010 berakhir sudah mata rangkaian kegiatan Whorkshop Kepala SMA Model yang diikuti 132 peserta se Indonesia ditutup secara resmi oleh Ibu Ir. Diah Widyowatie, MM selaku Kasubdit Pembelajaran Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemntrian Pendidikan Nasional di Hotel Hotel Grand PreangerJl. Asia Afrika Nomor 81 – Bandung – Jawa Barat

Sebelum penutupan dilaksanakan terlebih dahulu penyampaian tim perumus Nasional kepala SMA Model yang diwakili oleh bapak Drs. Heriyanto, M.Pd, Kepala SMAS Al Bayan Sukabumi menyampaikan beberapa aspek dari hasil rumusan masing-masing wilayah dirangkum menjadi rumusan masalah yang sifatnya nasional yaitu:

Permasalahan yang sifatnya umum yaitu keterlaksanaan program di ukur berdasarkan waktu pelaksanaan supervisi dan rentang waktu peluncuran program, supervise tahap pertama dan supervise tahap kedua yang terlalu dekat. Perbedaan persepsi antar supervisor dengan sekolah dan terdapat beberapa instrument yang harus ditinjau ulang

Rumusan program tindak lanjut standar isi yang berhubungan dengan PBKL Sekolah belum  melakukan teknik analisis keunggulan lokal dan Penyusunan Program PBKL, Sekolah belum memahami pelaksanaan Program PBKL, Sekolah belum mengembangkan silabus muatan lokal secara mandiri, Dokumen KTSP Sekolah belum maksimal  melakukan analisis konteks, Visi misi belum mencerminkan TIK, Sekolah belum memiliki TPK

Standar Kompetensi Lulusan Sekolah  belum menetapkan kriteria kelulusan US >= KKM Mapel

Standar Proses Jumlah siswa per rombongan belajar lebih dari 32, Beban mengajar guru belum 24 jam per minggu, Sekolah belum melaporkan hasil Supervisi dan Evaluasi, Sekolah belum membuat program tindak lanjut hasil supervise, Sekolah belum melaporkan hasil Supervisi dan Evaluasi, Sekolah belum membuat program tindak lanjut hasil supervise. Sekolah belum memiliki tenaga laboran, dan Pustakawan dan teknisi IT yang sesuai dg latar Pendidikan

Standar Pendidik dan Kependidikan SIM dalam bentuk  PAS  belum diterapkan disekolah, Guru yang telah bersertifikasi belum mencapai 75 %,

Standar Sarana dan Prasarana Belum semua sekolah  memenuhi standar sarana /Prasarana, Website sekolah belum berbasis Portal.

Standar Pengelolaan Sekolah belum menjalin kemitraan, Sekolah belum membuat program kerja implementasi PBKL. Sekolah belum melakukan evaluasi dan pengembangan PSB.

Standar Penilaian Sekolah belum memiliki panduan penyampaian ketidakpuasan dalam penilaian.

Standar Pembiayaan Sekolah belum menggali dana dari berbagai sumber untuk penerapan PBKL

Daya Dukung Eksternal Sekolah belum maksimal melakukan hubungan kerja sama dengan Potensi eksternal