Home » Akademis » TIM ISPO SMA N 7 Jogja Wakili DIY

TIM ISPO SMA N 7 Jogja Wakili DIY

Published on March 9, 2009 — Ditulis oleh Drs. Bandono, MM | Kategori: Akademis, Berita

Tim ISPO SMA N 7 Yogyakarta berhasil menjadi finalis pada Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2009. Tim tersebut merupakan satu-satunya finalis tingkat SMA yang berasal dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka akan memamerkan hasil penelitiannya pada tanggal 11-13 Maret mendatang di Jakarta.

Tim ISPO SMA N 7 Yogyakarta terdiri dari empat siswa, yaitu Ariza Tri Suciati (XI.IA 2), Latifah Nur Hidayah Rochmah (XI.IA 2), Mirza Rahim (XI.IA 3), dan Febriarmono Uniza Putra (XI.IA 3), mengirimkan dua proyek sains di bidang Biologi dan berhasil masuk 150 finalis yang berhak memamerkan proyeknya untuk memperebutkan medali ISPO 2009.

ISPO sendiri merupakan salah satu kompetisi ilmiah bergengsi di tingkat nasional. Kompetisi ini diprakarsai secara internasional oleh Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (Pasiad Indonesia) dan didukung oleh berbagai institusi, yaitu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Syiah Kuala.

Ariza dan Latifah berhasil menjadi finalis ISPO berkat proyek sainsnya yang berupa penelitian mengenai potensi biji kapuk randu (Ceiba pentandra) sebagai sumber bioetanol. Sedangkan proyeks sains yang dikerjakan oleh Mirza dan Febriarmono adalah penelitian mengenai pengaruh medan listrik terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian mereka dibimbing oleh guru pembimbing KIR, Arif Kurniawan, S.Si.

”Pada ISPO 2009 ini kami mengirimkan dua kelompok dan alhamdulillah keduanya lolos menjadi finalis. Ini pencapaian kali pertama bagi SMA N 7 Yogyakarta pada kompetisi KIR tingkat nasional yang penyelenggaraannya berupa olimpiade”, kata Arif Kurniawan.
Di bawah bimbingan guru berpengalaman dan juga berprestasi di tingkat nasional, kini KIR SMA N 7 Yogyakarta mulai diperhitungkan di tingkat nasional. Juara bukanlah target utama yang ingin diraih, karena memang pada final ISPO ini, penghargaan tidak hanya diberikan kepada satu tim, tetapi kepada beberapa tim untuk setiap tingkatan kejuaraan. Medali emas akan diberikan kepada 10% peserta dengan raihan nilai tertinggi, medali perak untuk 10% peserta dengan raihan nilai dibawah medali emas, dan medali perunggu untuk 10% dengan raihan nilai di bawah medali perak. Para peraih medali nantinya juga berkesempatan untuk mewakili Indonesia di kompetisi proyeks sains tingkat internasional, yaitu International Science Project Olympiad.

Kepala SMA N 7 Yogyakarta, Drs. Mawardi, berharap agar para siswa dapat melakukan pameran dengan sebaik-baiknya. ”Harapan kami, dengan mengikuti final ISPO 2009 ini, para siswa akan mendapatkan pengalaman berharga sehingga bermanfaat dalam pengembangan diri mereka. Mereka mampu berbicara di tingkat nasional dan membawa nama baik sekolah dan daerah”, katanya. ”Syukur kalau bisa meraih medali emas dan melaju ke tingkat internasional”, kata Wakasek Kesiswaan, Drs. Suharno, menambahkan.

Sebelum berangkat, Tim ISPO SMA N 7 Yogyakarta juga berpamitan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Sabtu 7 Maret 2009. Kepala Dinas Pendidikan, Drs. Syamsuri MM, mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih oleh siswa-siswi SMA N 7 Yogyakarta. Kepala Dinas juga berharap agar Tim ISPO SMA N 7 Yogyakarta dapat terus meningkatkan prestasinya. Dalam acara pamitan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan juga didampingi Drs. Sujarwo. Sedangkan TIM ISPO SMA N 7 Yogyakarta juga didampingi oleh Wakasek Humas, Dra. Widya Astuti.

Selain membawa misi ilmiah, dalam pameran nanti, Tim ISPO SMA N 7 Yogyakarta juga akan mempromosikan potensi Yogyakarta dalam bidang pendidikan, pariwisata, dan budaya. ”Selama masa olimpiade tersebut, selain mementaskan proyek dalam bentuk poster dan model penelitian, kami juga akan menyediakan brosur, foto, katalog, majalah, koran, dan media informasi lainnya tentang Yogyakarta, serta mengenakan pakaian tradisional supaya tampil beda”, kata salah seorang siswa, Latifah.